Apa yang Dimaksud Batu Saluran Kemih?

Batu Saluran kemih (BSK) atau Urolitiasis adalah batu di saluran kemih yang mencakup ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. BSK merupakan penyakit yang umum terjadi, dimana angka kejadian yang dilaporkan antara 3% - 20% di seluruh dunia, dengan risiko kekambuhan seumur hidup sebesar 50% - 70%. Di Asia, sekitar 1% - 19,1% dari populasi menderita BSK. Data di Indonesia menunjukkan bahwa BSK merupakan penyakit kedua terbanyak setelah infeksi saluran kemih, juga sebagai penyakit terbanyak diantara penyakit yang memerlukan tindakan di bidang urologi. Komposisi pembentukan batu merupakan faktor kunci dalam evaluasi pra operasi, pengobatan, dan pencegahan batu saluran kemih berulang. Dimana komposisi yang paling sering ditemukan yaitu kalsium oksalat (75% - 90%), diikuti oleh asam urat (5% - 20%), kalsium fosfat (6% - 13%), struvite (2% - 15%), dan sistin (0,5% - 1%). 

Faktor- Faktor Penyebab BSK

Pembentukan batu disebabkan oleh peningkatan jumlah zat kalsium, oksalat, dan asam urat dalam tubuh atau menurunnya sitrat sebagai zat yang menghambat pembentukan batu. Secara umum faktor risiko terjadinya batu saluran kemih dibagi menjadi tiga, yaitu faktor individual, saluran kemih, dan lingkungan. 

  1. Faktor Individual
     
    Faktor individual dibagi menjadi dua, yaitu :
    a. Tidak dapat dimodifikasi / tidak dapat di perbaiki. 
        Faktor yang tidak dapat dimodifikasi diantaranya riwayat keluarga penderita batu saluran kemih, etnis, usia dan jenis kelamin.

    b. Gaya Hidup.
        Faktor gaya hidup terdiri dari pola makan yang tinggi oksalat (bayam, kacang kedelai, tempe, dan tahu), dehidrasi, obesitas, diabetes melitus dan hipertensi.

  2. Faktor Saluran Kemih
     

    Faktor sistem saluran kemih diantaranya kelainan anatomi dari saluran kemih seperti pada kondisi ginjal tapal kuda (penyatuan dua kutun ginjal). 






  3. Faktor Lingkungan

    Keadaan geografi, pekerjaan, iklim dan temperatur. Salah satu contoh lingkungan pekerjaan seperti pada pegawai teller bank yang tidak bisa selalu ke kamar mandi dan harus menahan BAK.
    Batu saluran kemih dapat diklasifikasikan berdasarkan: 

    a. Ukuran

    Ukuran batu biasanya diberikan dalam satu atau dua dimensi, dan bertingkat menjadi yang berukuran hingga 5 mm, 5-10 mm, 10-20 mm, dan berdiameter terbesar > 20 mm

    b. Lokasi 


    Klasifikasi berdasarkan lokasi terdapatnya batu di saluran kemih antara lain ginjal, ureter, dan kandung kemih.



     

     
    c. Komposisi 

    a. Batu kalsium: Jenis batu kalsium yang paling umum adalah kalsium hidrogen fosfat dihidrat (kristal Brushite) dan kalsium oksalat. Pada kebanyakan orang, ginjal mengeluarkan kalsium ekstra dengan sisa urin. Bagi sebagian orang, kalsium menumpuk dan bercampur dengan produk lain untuk membentuk batu. 

    b. Batu struvite: batu-batu ini biasanya terbentuk setelah infeksi saluran kemih. Batu-batu ini mengandung mineral magnesium dan amonia sisa metabolism tubuh.

    c. Batu asam urat: Batu-batu ini terbentuk ketika ada kelebihan asam dalam urin. Gangguan metabolisme yang menyebabkan pengasaman urin yang tidak tepat sebagian besar berakhir pada pembentukan batu asam urat. Hal ini bisa dicegah dengan mengurangi konsumsi daging. 

    d. Batu sistin: jenis batu ini jarang terjadi. Sistin bahan pembentuk otot, saraf, dan bagian tubuh lainnya. Akumulasi sistin yang berlebihan menyebabkan penumpukan sistin dalam urin, yang mengarah pada pembentukan batu.

 

Gejala bila Anda Terkena BSK 

Gejala klinis batu saluran kemih bisa mulai dari tanpa gejala (asimptomatis), bergejala ( simptomatis) sampai gagal ginjal. Gejala klinis simptomatis bisa berupa gejala klasik dan atau gejala komplikasi. Gejala klasik dapat berupa sakit pinggang kolik (nyeri sangat hebat akibat kontraksi) bila terjadi penjeratan saluran kemih akibat batu, sakit pinggang non kolik, dan gejala komplikasi seperti buang air kecil berdarah (hematuria) akibat gesekan batu dengan ginjal maupun ureter, gangguan buang air kecil, dan keluar batu saluran kemih secara spontan. Gejala menyeluruh yang muncul dapat berupa demam (jika berhubungan dengan infeksi), mual maupun muntah. Komplikasi yang dapat terjadi bila tidak teratasi dengan baik diantaranya : 

1. Nanah. 

2. Gagal ginjal. 

3. Pembentukan saluran baru saluran kemih.

4. Penyempitan Ureta.

5. Uretra luka dan berlubang.

  

Pencegahan yang Bisa Dilakukan 

Pencegahan tergantung pada komposisi batu : 

1. Batu Asam Urat.
    Mengatur 
jumlah konsumsi daging dan/ pemberian obat penurun asam urat. 

2. Batu Kalsium Fosfat.
    Melakukan 
pemeriksaan jumlah kalsium dalam urin dan hitung kalsium darah.

3. Batu Kalsium Oksalat.
    Mengurangi 
makanan yang mengandung tinggi oksalat yaitu bayam, teh, kopi, dan cokelat. 

 

Cara Menghindari Kekambuhan BSK 

 Batu saluran kemih merupakan penyakit seumur hidup, dimana rata-rata kekambuhan pada pertama kali batu terbentuk adalah 50% dalam 5 tahun dan 80% dalam 10 tahun. Penderita yang memiliki risiko tinggi kambuh ialah yang tidak patuh pada pengobatan, tidak mengubah gaya hidup, atau ada penyakit lain yang mendasari.  

Untuk mencegah kekambuhan batu, disarankan untuk mencukupi asupan cairan, menjaga berat badan ideal, serta tidak berlebihan konsumsi makanan asin, makanan tinggi, minuman bersoda, dan yang mengandung pemanis buatan.

 

 

Daftar Pustaka

1.      Fikriani H, Wardhana Y. Alternatif Pengobatan Batu Ginjal Dengan Seledri. Farmaka. 2018;16(2):531–9.

2.    Zamzami Z. Penatalaksanaan Terkini Batu Saluran Kencing di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, Indonesia. J Kesehat Melayu. 2018;1:60.

3.  Liu Y, Chen Y, Liao B, Luo D, Wang K, Li H, et al. Epidemiology of urolithiasis in Asia. Asian J Urol [Internet]. 2018;5(4):205–14. Available from: https://doi.org/10.1016/j.ajur.2018.08.007

4.    Pramiadi P, Utomo BP, Setyawan NH. Dual-Energy Computed Tomography untuk Menentukan Komposisi Batu Urin. J Radiol Indones. 2017;2(2):104–16.

5.    Alwi I, Salim S, Hidayat R, Kurniawan J, Thapary D, editors. Penatalaksanaan di Bidang Ilmu Penyakit Dalam Panduan Praktik Klinis. Cetakan Ke. InternaPublishing; 2019.

6.    Kasote DM, Jagtap SD, Thapa D, Khyade MS, Russell WR. Herbal remedies for urinary stones used in India and China: A review. J Ethnopharmacol [Internet]. 2017;203(June 2018):55–68. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.jep.2017.03.038

7.    Türk C, Skolarikos A, Neisius A, Petrik A, Seitz C, Thomas K. EAU Guidelines on Urolithiasis [Internet]. 2019. Available from: https://uroweb.org/wp-content/uploads/EAU-Guidelines-on-Urolithiasis-2019.pdf

8.    Chennupati S, Alla N, Bose C. Study on Anti Urolithiasis Activity of Some Common Medicinal Plants Alcoholic Extracts. 2015;

9.    Eka Fildayanti W. Election of Open Stone Surgery (Oss) As Treatment To Case on Staghorn Stone. J Med Prof. 2019;1(1):16.

10.   Chandirika Jayaraman U, Gurusamy A. Review on Uro-Lithiasis Pathophysiology and Aesculapian Discussion. IOSR J Pharm  [Internet]. 2018;8(2):30–42. Available from: www.iosrphr.org

11.   Bawari S, Sah AN, Tewari D. Urolithiasis: An Update on Diagnostic Modalities and Treatment Protocols. 2017;

12.   Yasui T, Okada A, Hamamoto S, Ando R, Taguchi K, Tozawa K, et al. Pathophysiology-based treatment of urolithiasis. Int J Urol. 2017;24(1):32–8. 

 

 

 

 

Informasi Penulis :

dr. Dinda Iryawati BS, MKM

PT. Masa Cipta Husada – RS Grha Permata Ibu

Jl. K.H.M. Usman No.168, Kukusan, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16425 

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.  

© 2017 PT Masa Cipta Husada. All rights reserved